Pulang ke Jogja: Dulu Mengincar Makanan yang Tak Terbeli, Kini Terbeli Tapi Rasanya Berbeda

Zaenal Mustopa saat mahasiswa (2012-2016) dan bersama istri dan dua anak di Jogja, thumbnail Pulang ke Jogja
Dulu datang untuk kuliah, kini pulang sebagai bapak.

Ada kota yang kita tinggali, dan ada kota yang diam-diam tinggal di dalam kita. Jogja, buat saya, adalah yang kedua.

Tahun 2012, saya datang ke Jogja dengan satu tujuan: kuliah. Tas penuh baju, kepala penuh rencana, dan dompet yang selalu butuh diakali sampai akhir bulan. Empat tahun kemudian, 2016, saya pergi membawa ijazah, dan bawaan yang tidak kelihatan: kenangan.

Hampir sembilan tahun saya merantau dan bekerja di banyak tempat. Jogja jadi semacam album lama yang sesekali saya buka kalau sedang rindu. Tidak pernah terpikir saya akan masuk lagi ke dalam album itu sebagai tokoh yang sama sekali berbeda.

Plot twist bernama mutasi

Lalu, di tahun 2025, datanglah kabar itu: mutasi. Homebase kerja saya pindah ke Jogja.

Reaksi pertama saya campur aduk. Senang, jelas. Tapi ada rasa aneh juga, seperti disuruh kembali ke sekolah lama setelah lulus hampir satu dekade. Kota yang sama, tapi saya sudah bukan orang yang sama.

Jogja: dulu dan sekarang, dari kacamata saya

Jogja 2012–2016
  • Datang untuk kuliah
  • Tinggal di Sleman, dekat UNY & UGM
  • Hidup sendiri, ramai teman
  • Sibuk mencoba hal baru
  • Waktu terasa panjang
Jogja sejak 2025
  • Datang untuk bekerja
  • Tinggal di Bantul
  • Hidup bersama istri dan 2 anak
  • Sibuk memastikan keluarga nyaman
  • Waktu terasa cepat habis

Dulu Sleman, sekarang Bantul

Dulu dunia saya sempit tapi terasa luas: kampus, kos, tempat makan, dan lingkaran teman yang rasanya tidak akan pernah bubar. Semua serba dekat dan serba spontan. Ajak teman sebentar, jadi kumpul sampai larut.

Sekarang saya tinggal di Bantul. Pagi diawali urusan anak dan perjalanan ke kantor. Malam diisi obrolan keluarga, lalu tidur lebih awal karena besok harus mengulang semuanya lagi. Tidak ada yang salah dengan ritme itu. Justru di situ saya sadar: Jogja yang sama bisa terlihat sangat berbeda tergantung siapa yang melihatnya.

Kota ini tidak berubah sebanyak yang saya kira. Yang berubah adalah cara saya memandangnya.Catatan untuk diri sendiri

Makanan yang dulu hanya bisa saya incar

Ada satu hal yang paling jujur menunjukkan perubahan itu: urusan makan.

Waktu kuliah, ada satu menu yang selalu saya incar. Bukan makanan mewah, tapi bagi anak kos dengan uang bulanan yang pas-pasan, harganya terasa mahal. Saya sering melewati tempatnya, menghirup aromanya, lalu melanjutkan perjalanan menuju warung yang lebih murah. Di kepala saya selalu ada satu kalimat: nanti, kalau sudah kerja, saya beli yang itu sepuasnya.

Janji kecil itu saya simpan bertahun-tahun, dan ternyata terbawa sampai ke sini.

Sekarang, saya sudah bekerja. Saya mampu membelinya, bahkan tidak perlu menghitung dua kali. Maka suatu hari saya datang ke tempat itu, duduk, memesan, dan menunggu dengan hati yang agak berdebar, seperti mau bertemu teman lama.

Makanan datang. Saya suap pertama.

Rasanya enak. Tidak ada yang salah dengan rasanya.

Tapi ada yang hilang, dan saya butuh beberapa suap untuk menyadari apa itu.

Yang hilang bukan rasanya

Rasa makanan itu mungkin tidak berubah sama sekali. Yang berubah adalah bumbu-bumbu yang dulu tidak tertulis di menu: lapar yang sungguhan, penantian berminggu-minggu, tawa teman yang duduk di sebelah, dan perasaan menang karena akhirnya bisa membeli sesuatu dari hasil menyisihkan uang.

Dulu, satu porsi itu adalah peristiwa. Sekarang, ia hanya makan siang.

Penantian, kebersamaan, dan rasa lapar yang sungguhan: tidak satu pun tertulis di menu, tapi justru itu yang membuat rasanya dulu terasa mahal sekali.

Dari situ saya belajar sesuatu yang selama ini hanya saya dengar dari orang-orang yang lebih tua.

Kemampuan membeli tidak otomatis membeli kebahagiaan yang dulu kita bayangkan.

Yang kita kejar sering bukan bendanya, melainkan versi diri kita yang lapar, penuh harap, dan belum punya apa-apa.

Dan itu tidak apa-apa. Tidak ada yang rusak. Hanya saja, saya jadi paham kenapa orang tua kita sering bilang bahwa bahagia itu soal cara memandang, bukan soal apa yang ada di piring.

Dulu saya mengejar makanannya. Sekarang saya sadar, yang saya rindukan adalah rasa lapar, harapan, dan teman duduk di sebelah.Renungan sehabis makan

Dipaksa merajut kembali memori

Saya bilang "dipaksa", karena memang begitu rasanya. Setiap melewati tempat-tempat lama, kepala saya otomatis memutar ulang adegan.

Di sudut itu dulu kami nongkrong.

Di jalan ini dulu saya pulang larut sambil tertawa.

Semuanya muncul tanpa diminta.

Tapi ketika saya menoleh mencari teman-teman yang dulu menemani, kursinya kosong. Sebagian besar sudah kembali ke daerah masing-masing. Yang masih di Jogja pun sudah punya kehidupannya sendiri: pekerjaan, keluarga, dan jadwal yang tidak lagi bisa dicocokkan semudah dulu.

Ada rasa sepi yang halus di sana. Bukan sedih yang pecah, lebih seperti menyadari bahwa panggung yang sama sedang dipakai untuk pertunjukan lain. Dan saya, yang dulu pemeran utama kisah mahasiswa itu, sekarang memainkan peran baru: seorang bapak.

· · ·

Kebahagiaan yang berpindah alamat

Anehnya, kebahagiaan yang dulu saya cari di meja makan warung, sekarang saya temukan di tempat lain: melihat anak-anak makan dengan lahap, mendengar mereka bercerita sambil mulut penuh, atau menyadari istri tersenyum karena makanan yang kami nikmati bersama.

Saya mulai paham bahwa seorang bapak jarang menjadi orang yang paling menikmati hidangan di meja. Dan itu bukan pengorbanan yang menyedihkan. Itu pergeseran: dari menikmati untuk diri sendiri, menjadi bahagia karena orang-orang yang kita sayangi bisa menikmatinya.

Mereka juga tidak punya kenangan apa pun tentang Jogja versi saya. Bagi anak-anak, kota ini baru dimulai. Mungkin itu hadiahnya: saya diberi kesempatan melihat Jogja sekali lagi, lewat mata mereka, sambil ikut membuat kenangan baru yang kelak akan mereka rindukan.

Hidup terus berlanjut

Kenangan itu indah untuk dikunjungi, tapi berbahaya kalau dijadikan tempat tinggal. Kalau saya terlalu lama berdiri di masa lalu, saya akan melewatkan hal paling berharga di depan mata: anak yang sedang tumbuh, istri yang ikut menata hidup baru, dan diri saya sendiri yang sedang belajar menjadi lebih dewasa.

Saya juga belajar bahwa tidak semua hubungan harus seperti dulu supaya tetap berarti. Teman-teman lama mungkin tidak lagi bisa kumpul tiap pekan. Tapi satu hal kecil sudah cukup menghidupkan ikatan itu:

Satu pesan singkat.

Satu panggilan telepon.

Satu foto lama yang dikirim sambil bilang, "ingat ini?"

Pertemanan dewasa memang lebih sunyi, namun kalau dijaga, ia bisa lebih awet.

Realistis, bijaksana, dan tetap bertumbuh

Jadi saya memilih tidak melawan perubahan ini. Realistis bahwa masa kuliah tidak akan kembali. Bijaksana menyikapi rindu. Dan tetap mau bertumbuh, di usia dan peran yang berbeda.

Pegangan saya di fase ini

Perspektif baruMelihat Jogja bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai rumah yang sedang dibangun.
Terus tumbuhBelajar, berkarya, dan menjadi lebih baik, kapan pun dan di mana pun.
Merajut maknaMengisi kota lama dengan cerita baru bersama keluarga.
BermanfaatTerutama bagi anak, istri, keluarga, lalu orang-orang di sekitar.
Hadir penuhMenikmati yang ada di meja hari ini, bukan membandingkannya dengan yang dulu.
BersyukurMampu membeli itu nikmat. Mampu merasakan, itu nikmat yang lebih dalam.

Kedewasaan, menurut saya sekarang, bukan berhenti merindukan masa lalu. Kedewasaan adalah mampu merindukannya tanpa lupa bersyukur atas hari ini. Dan kadang, untuk mengerti hal sesederhana itu, kita memang harus mengalaminya sendiri, bahkan lewat sepiring makanan.

Pulang, dengan arti yang baru

Dulu saya datang ke Jogja untuk mencari bekal hidup. Sekarang saya kembali untuk menjalani hidup itu sendiri. Dulu saya mengejar keseruan, sekarang saya belajar menghargai ketenangan. Dulu ukuran bahagia adalah seberapa ramai meja kami, sekarang ukurannya seberapa hangat meja makan di rumah.

Jogja masih Jogja. Hanya saja kali ini, saya tidak lagi sekadar singgah. Saya pulang.

Pernahkah kamu mengejar sesuatu bertahun-tahun, lalu setelah berhasil mendapatkannya, rasanya tidak seperti yang dibayangkan? Ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu kita sedang belajar hal yang sama.

Jl. Colombo No.1, Karang Malang, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, Indonesia
Reactions
Post a Comment