Diajak Makan Dadakan Saat Zoom, Berujung Seafood Makassar
Siang itu saya sedang duduk di depan laptop, ikut rapat lewat Zoom, saat pintu ruangan terbuka dan seseorang muncul dengan ajakan yang tidak bisa saya tolak.
Diajak di Tengah Rapat
Kamera masih menyala, suara rekan-rekan meeting masih terdengar pelan dari earphone, ketika Kepala Cabang Makassar berdiri di ambang pintu.
"Oh iya, Pak, boleh. Mau makan di mana?"
"Udah ngikut aja, kita makan seafood enak."
"Siap, Pak," jawab saya sambil senyum. "Tapi maaf, saya selesaikan Zoom dulu ya, Pak."
"Aman."
Begitu saja, tanpa rencana, siang itu berubah arah. Kami bersiap menuju Fajar Seafood Makassar, di Jalan Pengayoman, Kecamatan Rappocini.
Kesan Pertama di Fajar Seafood
Begitu turun dari mobil, aroma bakaran dan tumisan dari dapur langsung tercium, bercampur dengan asap tipis yang mengepul ke udara sore. Dapurnya terbuka, terlihat jelas dari meja pengunjung, dan begitu masuk kami disodori nampan berisi ikan, udang, cumi, dan kepiting untuk dipilih langsung.
Ikannya masih mengilap, matanya jernih. Bukan menu yang dicetak di kertas, tapi bahan yang benar-benar ada di depan mata. Rombongan kami cukup ramai, dan yang perempuan-perempuan langsung sibuk memilih. Saya sendiri, karena baru pertama ke sana, cuma bilang, "Dah, Pak, saya ikut apa yang dipilih saja."
Ngobrol Ringan Sambil Menunggu
Saya duduk semeja dengan Kepala Region wilayah, yang kebetulan sama-sama dari Jawa Barat. Kami memilih meja di luar, karena katanya di dalam ber-AC jadi tidak bisa merokok.
Obrolan mengalir apa adanya, dari cerita kerja sampai kangen suasana rumah. Meja kayu sederhana, kipas angin berputar pelan, dan suara obrolan pengunjung lain berbaur dengan bunyi wajan dari dapur. Di tengah project yang cukup padat, jeda kecil seperti itu terasa pas.
Otak-Otak dan Sambal yang Bikin Penasaran
Sebelum seafood utama datang, meja kami sudah lebih dulu terisi camilan. Pak Sutrisno, Kepala Cabang, menawarkan salah satu makanan sambil bilang, "Ini coba, Pak."
Saya kira itu lontong. Setelah digigit, rasanya gurih dan kenyal khas ikan — ternyata otak-otak. Ditemani kerupuk dan semangkuk sambal berwarna merah segar dengan potongan yang masih terlihat kasar.
Karena saya penggemar sambal matah, saya ambil cukup banyak tanpa tanya dulu. Belakangan baru saya tahu, namanya bukan sambal matah, melainkan sambal dabu-dabu, kadang disebut juga sambal nona oleh orang Sulawesi.
Ikan, Kangkung, dan Meja yang Penuh
Satu per satu pesanan mulai datang. Ikan segar berukuran besar disajikan utuh, masih mengepul dengan aroma bakar. Kami makan bersama, saling ambil dari piring besar di tengah meja, cara makan yang selalu terasa hangat, apalagi bersama rekan-rekan dari berbagai daerah.
Ada kangkung tumis untuk menyeimbangkan rasa gurih seafood, dan ayam bakar untuk beberapa rekan yang alergi seafood. Cumi-cumi kecil digoreng garing di luar, lembut di dalam.
Ikan Kudu-Kudu
Di tengah makan, saya ditawari mencoba ikan kudu-kudu yang sudah difilet. Ini pengalaman pertama saya, dan dagingnya lembut, gurih secara alami tanpa perlu banyak bumbu tambahan. Rasa seperti itu biasanya menandakan satu hal sederhana: ikannya memang baru diangkat dari laut.
Lebih dari Sekadar Makan Siang
Yang membuat siang itu berkesan bukan cuma soal rasa makanannya, tapi suasananya: ajakan spontan, obrolan santai lintas daerah, dan cara makan bersama yang mencairkan jarak antara posisi dan jabatan. Di tengah project yang padat di Cabang Makassar, momen sesederhana ini jadi pengingat bahwa kerja tidak melulu soal target dan laporan.
Terima kasih untuk teman-teman Cabang Makassar, terutama Pak Sutrisno dan seluruh tim, yang sudah menyempatkan waktu untuk makan bersama di sela kesibukan. Momen kecil seperti ini yang membuat waktu project di sini terasa lebih dari sekadar pekerjaan.
No Link dan Spam