Libur Terganggu Hujan, Playground di Bantul Ini Jadi Tempat Pelarian

Fasilitas Perosotan dan Mandi Bola playground Twinkel Bantul

Tanggal merah selalu punya magnetnya sendiri. Apalagi kalau jatuh di tengah pekan, rasanya seperti bonus kecil dari semesta. Kamis, 16 Januari 2026, adalah salah satu hari itu. Tidak ada agenda besar, tidak ada rencana jauh-jauh hari. Hanya satu niat sederhana: mengajak keluarga keluar rumah, menghirup udara luar, dan memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain lepas.

Pagi hingga siang hari berjalan biasa saja. Kami sekeluarga—aku, istri, dan dua anak perempuan kami—menjalani hari dengan santai. Anak pertama kami bernama Arsyila, usianya lima tahun. Di rumah dan di mana pun, dia lebih sering kami panggil Teteh. Usianya sudah cukup untuk banyak bertanya, cerewet, dan penuh rasa ingin tahu. Adiknya, Elisha, usia tiga tahun, kami panggil Dede. Masih di fase lucu-lucunya—bicara belum sepenuhnya jelas, tapi ekspresi dan tingkahnya selalu jujur dan apa adanya. Dua karakter yang berbeda, tapi sama-sama butuh ruang bermain.

Menjelang sore, barulah rencana itu dibicarakan lebih serius.

Rencana Awal: Ngopi Sore yang (Hampir) Ideal

Awalnya kami sepakat pergi ke Kulon Progo, tepatnya ke sebuah tempat yang belakangan cukup sering muncul di linimasa media sosial: Cafe Kopi Ingkar Janji. Konsepnya menarik. Mirip dengan Kopi Klotok yang sudah lebih dulu terkenal di Jogja, tapi dengan satu nilai tambah besar bagi kami yang punya anak kecil: playground outdoor.

Dalam bayangan kami, sore itu akan diisi dengan ngopi santai, anak-anak bermain di luar, kami menikmati senja sambil mengawasi dari kejauhan. Karena itulah kami memilih berangkat agak sore, sekitar jam tiga. Logikanya sederhana: panas matahari sudah turun, suasana lebih adem, dan bonus cahaya senja yang biasanya bikin hati lebih tenang.

Kami berangkat dengan perasaan ringan. Tidak terburu-buru. Anak-anak sudah di jok belakang, satu sibuk bernyanyi sendiri, satu lagi memainkan mainan kecil kesayangannya. Jalanan awalnya cukup bersahabat.

Sampai akhirnya kami masuk kawasan Jalan Godean.

Ketika Rencana Mulai Goyah

Entah sejak kapan langit berubah. Yang jelas, awan mendadak terlihat lebih gelap. Tidak lama kemudian, hujan turun. Bukan gerimis manja, tapi hujan yang cukup niat. Jalanan mulai basah, jarak pandang sedikit berkurang, dan mood di dalam mobil perlahan ikut berubah.

Aku dan istri saling pandang.

Playground outdoor jelas bukan ide yang baik kalau hujan seperti ini. Anak-anak memang belum sepenuhnya paham, tapi kami tahu, memaksakan rencana hanya akan berujung ribet. Basah, licin, dan akhirnya anak-anak tidak bisa bermain maksimal.

Setelah berdiskusi singkat—yang sebenarnya lebih banyak isyarat mata daripada kata-kata—kami memutuskan untuk putar balik.

Rencana ke Kulon Progo kami coret hari itu.

Tidak ada rasa kecewa berlebihan. Lebih ke arah, “Ya sudah, cari alternatif.”

Mencari Jalan Tengah

Di dalam mobil, aku mulai membuka ponsel. Satu kata kunci langsung aku ketik: playground outdoor Jogja. Tapi cepat aku koreksi. Hujan masih turun, artinya playground outdoor tetap kurang ideal.

Aku ganti strategi.

Playground anak Bantul.

Beberapa nama muncul. Sebagian berada di dalam mall—yang sebenarnya ingin kami hindari. Entah kenapa, kami sedang ingin suasana yang lebih santai, tidak terlalu ramai, dan tidak terlalu “mall banget”.

Scroll. Baca sekilas ulasan. Scroll lagi.

Sampai akhirnya satu nama muncul dan terasa berbeda.

Twinkle Playground.

Lokasinya di Jl. Bantul No. Km.5, Kweni, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kami buka detailnya.

Playground indoor. Tiket terjangkau. Bisa main sepuasnya. Ada area tunggu orang tua. Ada makanan dan kopi.

“Ini kayaknya oke,” kataku.

Istri mengangguk, lalu bertanya ke anak-anak, “Mau main?”

Dua kepala kecil itu langsung mengangguk antusias, meski mereka belum benar-benar tahu akan main di mana.

Keputusan pun dibuat.

Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Twinkle Playground

Hujan masih turun ringan ketika kami sampai di lokasi. Area parkirnya cukup lega. Untuk mobil, kurang lebih muat lima kendaraan. Tidak luas sekali, tapi jelas cukup. Untuk motor, lebih longgar—puluhan motor masih bisa tertampung.

Begitu turun dari mobil, suasana langsung terasa berbeda. Tidak bising. Tidak riuh. Lebih ke arah hangat dan ramah keluarga.

Kami masuk ke area playground. Dari depan saja sudah terlihat bahwa tempat ini memang dirancang untuk anak-anak. Warna-warni, bersih, dan tertata.

Harga tiketnya pun jelas:

  • Weekday: Rp20.000 per anak

  • Weekend / tanggal merah: Rp25.000 per anak

Dan yang paling penting: main sepuasnya.

Tidak ada batas waktu satu jam atau dua jam. Anak-anak boleh bermain selama mereka mau.

Untuk orang tua? Gratis.

Bukan Playground Murahan

Jujur, dengan harga segitu, ekspektasi kami awalnya biasa saja. Tapi begitu masuk lebih dalam, persepsi itu langsung berubah.

Twinkle Playground bukan playground murahan.

Fasilitasnya lengkap, dan yang paling terasa: terawat.

Begitu masuk, Teteh dan Dede langsung berlarian kecil, mata mereka berbinar melihat begitu banyak pilihan permainan. Mereka tampak bingung harus mulai dari mana, saking banyaknya.

Aku dan istri saling pandang dari area duduk. Kali ini dengan senyum kecil, sambil membiarkan Teteh dan Dede memilih dunia main mereka sendiri.

“Kayaknya kita nemu tempat yang pas,” bisik istriku.

Dunia Kecil yang Lengkap

Dari tempat duduk, aku memperhatikan satu per satu area permainan yang mereka coba.

Ada area hospital. Lengkap dengan peralatan dokter, perawat, tempat tidur pasien mainan, hingga alat-alat medis versi anak-anak. Teteh langsung tertarik ke area hospital. Ia mengenakan stetoskop mainan dan dengan serius berpura-pura menjadi dokter, memeriksa Dede yang menurut saja berbaring di kasur mainan.

“Adiknya sakit apa, Dok?” tanyaku.

“Sakit perut karena kebanyakan es krim,” jawabnya polos.

Kami tertawa.

Tidak jauh dari situ, ada Cafe Kitchen. Area masak-masakan lengkap dengan kompor mainan, panci, wajan, dan peralatan dapur mini. Kali ini giliran Dede yang betah di sini. Ia sibuk ‘memasak’, mondar-mandir membawa piring plastik ke sana kemari. Ia sibuk ‘memasak’, bolak-balik membawa piring plastik ke mana-mana.

Ada juga mini supermarket, lengkap dengan rak-rak, barang-barang mainan, dan keranjang belanja kecil. Teteh sempat berperan jadi kasir, sementara Dede jadi pembeli yang asal ambil barang. Anak-anak bisa bermain peran: belanja, jadi kasir, atau jadi pembeli.

Permainan seperti ini bukan sekadar seru, tapi juga melatih imajinasi dan interaksi sosial mereka.

Energi yang Tersalurkan

Bagi anak-anak yang lebih aktif, Twinkle Playground juga punya area fisik.

Ada trampolin. Tidak terlalu besar, tapi cukup aman untuk anak-anak usia balita hingga TK.

Ada mandi bola dengan warna-warni cerah. Area ini hampir tidak pernah sepi. Anak-anak keluar-masuk, tertawa, berguling, dan sesekali jatuh—tentu dengan aman.

Ada juga perosotan meluncur—aku sendiri tidak tahu nama teknisnya apa. Yang jelas, anak-anak harus naik dulu, lalu meluncur dengan gaya masing-masing.

Dan satu lagi yang cukup menarik: climbing area. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup menantang untuk anak-anak. Anak pertama kami sempat ragu di awal, tapi setelah dicoba sekali, ia ingin naik lagi.

Melihat mereka berkeringat, tertawa, dan benar-benar menikmati waktu bermain, ada rasa lega yang sulit dijelaskan.

Orang Tua Juga Dimanjakan

Satu hal yang sering jadi pembeda playground yang biasa dengan yang benar-benar ramah keluarga adalah: fasilitas untuk orang tua.

Dan di Twinkle Playground, bagian ini benar-benar terasa diperhatikan, bahkan sampai ke detail yang mungkin tidak semua playground pikirkan: WiFi.

Di Twinkle Playground, ini diperhatikan dengan baik.

Ada meja dan kursi tunggu yang nyaman. Penataannya memungkinkan orang tua tetap bisa mengawasi anak-anak tanpa harus berdiri atau mondar-mandir.

Dan yang paling menyenangkan: ada menu makanan dan minuman layaknya cafe.

Bukan sekadar air mineral atau snack kemasan.

Ada nasi goreng, mie goreng, aneka kopi, roti, dan jajanan lainnya. Harganya pun sangat terjangkau.

Kopi mulai dari Rp7.000 hingga Rp15.000.

Nasi goreng Rp15.000.

Menu lain pun masih di kisaran harga ramah kantong.

Aku memesan kopi dan duduk di area tunggu, sementara istri memesan minuman hangat. Di meja itu juga aku membuka laptop.

Twinkle Playground menyediakan akses WiFi, dan jujur saja, koneksinya kencang. Bukan sekadar WiFi formalitas. Aku sempat mengerjakan beberapa hal di website, ngonten ringan, sambil sesekali melirik ke arah area bermain memastikan Teteh dan Dede baik-baik saja.

Rasanya seperti menemukan kombinasi yang jarang: anak-anak bisa bermain puas, orang tua tetap bisa produktif. Kami lebih banyak mengamati dari jauh, membiarkan Teteh dan Dede larut dalam dunia mereka sendiri. Sambil duduk, kami menikmati momen langka: anak-anak bermain dengan aman, kami bisa duduk santai tanpa rasa khawatir berlebihan.

Detail Kecil yang Penting

Twinkle Playground juga punya mushola. Bersih dan cukup nyaman.

Toiletnya? Bersih. Aku sendiri sempat memakainya, jadi bisa memastikan kebersihannya.

Ada juga chiller berisi minuman kemasan dingin. Cocok kalau tiba-tiba ingin yang praktis.

Detail-detail seperti ini mungkin terlihat sepele, tapi justru sangat menentukan kenyamanan pengunjung—terutama orang tua yang kadang masih harus membuka laptop, membalas pekerjaan, atau sekadar ngonten seperti yang aku lakukan sore itu.

Sore yang Tidak Direncanakan, Tapi Berkesan

Hujan di luar masih turun, tapi di dalam Twinkle Playground, waktu terasa berjalan cepat.

Anak-anak tidak sekali pun minta pulang cepat. Mereka berpindah dari satu permainan ke permainan lain, kadang kembali ke area favorit mereka.

Kami duduk, mengobrol ringan, sesekali tertawa melihat tingkah anak-anak.

Rencana awal kami memang gagal. Cafe Kopi Ingkar Janji tidak jadi dikunjungi. Senja Kulon Progo tidak kami nikmati hari itu.

Tapi justru di situlah letak ceritanya.

Kadang, rencana yang batal membuka jalan ke pengalaman yang tidak kalah menyenangkan.

Penutup: Tentang Fleksibilitas dan Kebahagiaan Kecil

Libur tanggal merah ini mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua rencana harus berjalan sempurna untuk bisa bahagia.

Kadang, cukup dengan fleksibel, membuka opsi, dan menerima perubahan, kita justru menemukan tempat yang lebih pas dengan kebutuhan kita saat itu.

Twinkle Playground mungkin tidak ada di rencana awal kami. Tapi sore itu, ia menjadi penyelamat.

Anak-anak pulang dengan wajah puas dan tubuh lelah.

Kami pulang dengan hati yang hangat.

Dan itu, buat kami, sudah lebih dari cukup.


(Tamat)

Jl. Bantul No.Km.5, Kweni, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55188, Indonesia
Reactions
Post a Comment