Ayam Goreng Bu Tini Makassar: Rapat yang Berakhir Jadi Ajakan Makan Siang Paling Berkesan
Catatan Kuliner — Makassar
Ayam Goreng Bu Tini: Rapat yang Berakhir Jadi Ajakan Makan Siang Paling Berkesan
Kadang cerita kuliner terbaik bukan dari daftar rekomendasi, tapi dari ajakan mendadak yang hampir saja saya tolak.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Rapat yang dimulai sejak pukul sembilan pagi baru saja ditutup, laptop sudah setengah saya lipat, dan di kepala sudah tersusun rencana paling sederhana sedunia: beres-beres, cari makan seadanya, lalu rebahan sebentar sebelum lanjut agenda berikutnya. Tidak ada satu pun tanda bahwa siang itu akan berakhir dengan sepiring ayam goreng yang bumbunya meresap sampai ke serat daging, semangkuk sop hangat, dan sepotong sate besar yang rasanya masih terbayang sampai sekarang saya menuliskan ini.
Belum sempat saya benar-benar berdiri dari kursi, Pak Sutrisno — kepala cabang Makassar yang siang itu ikut duduk di rapat yang sama — menghampiri sambil menawarkan makan siang bersama. Reaksi pertama saya jujur saja: agak sungkan. Bukan apa-apa, hanya rasanya tidak enak merepotkan, apalagi beliau punya banyak urusan lain yang jauh lebih penting daripada menemani tamu dari kantor pusat makan siang.
Tapi kalimat berikutnya yang membuat saya luluh: “ini terakhir kali, lho, sebelum Bapak balik ke Jawa.” Kebetulan sore harinya saya memang harus mengejar penerbangan menuju Jogja. Mendengar itu, rasanya jadi tidak sopan kalau menolak. Akhirnya saya iyakan saja — dan keputusan spontan itu ternyata jadi salah satu pengalaman kuliner yang paling ingin saya ceritakan ulang.
Perjuangan Kecil di Depan Pintu Masuk
Kami berangkat menggunakan dua mobil menuju Jl. Gn. Lompobattang, ke sebuah rumah makan bernama Ayam Goreng Sulawesi Bu Tini. Begitu tiba, tantangan pertama langsung menyambut: area parkir penuh. Kami sempat berputar-putar mencari celah, sampai akhirnya — rezeki anak soleh — ada satu mobil yang kebetulan baru saja hendak keluar. Satu slot kosong itu langsung kami ambil.
Suasana di luar memang ramai. Parkir yang penuh sebenarnya jadi indikator yang cukup jujur: tempat ini memang jadi langganan banyak orang, bukan cuma warga sekitar. Meski begitu, saya perhatikan petugas parkirnya cukup banyak dan sigap mengatur kendaraan yang keluar-masuk, jadi meskipun padat, suasananya tetap terasa aman dan terkendali.
Begitu masuk, hawa sejuk dari AC langsung terasa — kontras dengan suasana di luar yang terik dan ramai. Meja-meja tertata cukup rapat karena memang sedang jam makan siang, tapi tidak sampai terasa sumpek. Justru suasana ramai itu menambah kesan bahwa tempat ini benar-benar “tempatnya orang Makassar makan siang”, bukan sekadar rumah makan yang dipoles untuk turis.
Ayam yang Bumbunya Meresap Sampai ke Tulang
Pak Sutrisno yang memesankan makanan untuk kami, dan menunya sudah jelas sejak awal: ayam goreng khas tempat ini, dilengkapi semangkuk sop, serta sambal yang — menurut saya — jadi salah satu bintang sesungguhnya dari meja itu.
Begitu suapan pertama masuk, saya langsung mengerti kenapa tempat ini selalu ramai. Bumbunya benar-benar meresap, bukan cuma menempel di kulit luar ayam. Rasanya gurih dengan lapisan rempah yang terasa dimasak dengan sabar, bukan asal digoreng cepat. Sop pendampingnya punya kuah bening yang hangat dan menyegarkan, pas sekali dinikmati di sela suapan ayam yang gurih. Lalu sambalnya — ini yang bikin nagih. Pedasnya pas, segar, dan justru bikin saya ingin nambah nasi meski awalnya berniat makan secukupnya saja.
“Kalau boleh jujur, dari skala 1 sampai 10, saya berani kasih nilai 9 untuk pengalaman makan siang itu.”
Selain ayam goreng, kami juga memesan sate — dan ini kejutan tersendiri. Model satenya besar-besar, mengingatkan saya pada sate maranggi khas Purwakarta: potongan dagingnya tebal, dibumbui dengan pekat, lalu dibakar sampai bagian luarnya sedikit karamel. Saat digigit, dagingnya empuk dan bumbunya benar-benar meresap sampai ke bagian tengah, bukan cuma manis di permukaan.
Kombinasi ayam goreng, sop hangat, sambal yang menggigit, dan sate besar yang empuk ini yang membuat saya menyimpulkan: rumah makan ini pantas jadi rekomendasi, bukan sekadar tempat makan darurat karena kepepet waktu sebelum penerbangan.
Kenapa Saya Kasih Skor 9 dari 10
Penilaian ini murni berdasarkan pengalaman makan siang saya sendiri, dengan mempertimbangkan beberapa hal yang biasanya jadi patokan saya saat menilai tempat makan:
- Rasa — bumbu meresap sempurna, baik di ayam goreng maupun sate, dengan sambal yang jadi nilai tambah besar.
- Kenyamanan tempat — ruangan ber-AC, sejuk, cocok untuk makan santai walau sedang ramai.
- Keramaian & keamanan — parkir penuh, tapi tertib berkat petugas yang sigap.
- Kesan personal — jadi penutup dinas kerja yang hangat, bukan sekadar transaksi makan.
- Lokasi
- Ayam Goreng Sulawesi Bu Tini — Jl. Gn. Lompobattang No. 11, Pisang Utara, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90157
- Telepon
- 0878-4001-2200
- Parkir
- Sering penuh saat jam makan siang, disarankan datang sedikit lebih awal
Penutup: Ajakan Mendadak yang Ternyata Tepat
Kalau dipikir-pikir, momen sederhana ini yang justru paling saya ingat dari perjalanan dinas ke Makassar hari itu — bukan materi rapatnya, tapi obrolan santai sambil makan bersama Pak Sutrisno sebelum saya harus buru-buru mengejar penerbangan sore ke Jogja. Kadang, hal-hal terbaik memang datang dari ajakan yang awalnya mau kita tolak karena sungkan.
Kalau kebetulan sedang ada urusan di Makassar dan mencari tempat makan siang yang autentik, rasanya cerita saya ini bisa jadi rekomendasi jujur: datang lebih awal untuk urusan parkir, siapkan perut untuk porsi yang mengenyangkan, dan jangan lupa cicipi sambalnya.
Tulisan ini adalah salah satu catatan yang saya simpan di rubrik Kuliner blog ini — tempat saya biasa mendokumentasikan cerita makan-makan dari satu kota ke kota lain, siapa tahu ada yang cocok untuk agenda kunjungan berikutnya.
No Link dan Spam